7 spesies ditemukan
Allium cepa var. aggregatum
Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) atau berambang adalah tanaman umbi dari keluarga Amaryllidaceae yang menjadi bumbu dapur utama di hampir setiap masakan Nusantara. Tanaman ini mudah dibudidayakan di dataran rendah hingga menengah dan menjadi komoditas sayuran strategis dengan nilai ekonomi tinggi di Indonesia.
Allium sativum
Bawang putih (Allium sativum) adalah tanaman umbi-umbian tahunan dari famili Amaryllidaceae subfamili Allioideae yang telah dibudidayakan selama lebih dari 5.000 tahun. Berasal dari Asia Tengah tepatnya Lembah Fergana di perbatasan Kirgistan dan Tajikistan, bawang putih menyebar ke seluruh dunia melalui jalur perdagangan kuno. Umbi bawang putih tersusun dari siung-siung yang terbungkus kulit tipis, dengan aroma khas menyengat dari senyawa allicin yang dilepaskan saat siung dihancurkan. Selain sebagai bumbu dapur esensial, bawang putih dikenal luas sebagai tanaman obat dengan manfaat antibakteri, antihipertensi, dan imunomodulator yang didukung lebih dari 5.000 studi ilmiah.
Beta vulgaris
Bit (Beta vulgaris) adalah tanaman umbi tahunan yang dapat tumbuh hingga 120 cm, menghasilkan akar merah kaya nutrisi, cocok untuk kebun organik. Tanaman ini toleran terhadap tanah berpasir dan membutuhkan penyiraman rutin.
Solanum tuberosum
Kentang (Solanum tuberosum) adalah tanaman umbi-umbian tahunan dari keluarga Solanaceae yang berasal dari Dataran Tinggi Andes di Peru dan Bolivia. Sebagai komoditas pangan terpenting keempat di dunia setelah padi, gandum, dan jagung, kentang telah menjadi sumber karbohidrat utama bagi lebih dari satu miliar penduduk global. Tanaman herba ini menghasilkan umbi batang yang kaya akan pati, vitamin C, vitamin B6, dan kalium. Di Indonesia, kentang dibudidayakan secara intensif di dataran tinggi Jawa Barat (Pangalengan, Garut, Ciwidey), Jawa Tengah (Dieng, Banjarnegara), Jawa Timur (Bromo, Malang), Sumatera Utara (Tanah Karo, Toba), dan Sulawesi Selatan (Enrekang). Produksi kentang nasional mencapai lebih dari 1,4 juta ton per tahun dengan produktivitas rata-rata 15-25 ton per hektar.
Manihot esculenta Crantz
Singkong (Manihot esculenta Crantz), juga dikenal sebagai ubi kayu, cassava, atau ketela pohon, adalah tanaman umbi-umbian tahunan dari famili Euphorbiaceae yang telah menjadi pilar ketahanan pangan di Indonesia sejak diperkenalkan oleh pedagang Portugis pada abad ke-16. Berasal dari kawasan Amazon di Brasil dan Paraguay, singkong kini dibudidayakan di lebih dari 100 negara tropis dan subtropis dengan Indonesia sebagai produsen terbesar keempat di dunia setelah Nigeria, Thailand, dan Ghana — mencapai produksi lebih dari 18 juta ton per tahun (BPS, 2025). Tanaman ini berupa perdu tegak dengan tinggi 1-5 meter, batang berkayu berbuku-buku yang mudah disetek, daun menjari (palmate) dengan 3-9 helai anak daun berwarna hijau gelap, dan umbi akar (tuberous root) silindris memanjang yang dapat mencapai panjang 30-100 cm dengan diameter 5-15 cm. Daging umbi singkong berwarna putih, krem, atau kekuningan tergantung varietas, kaya akan karbohidrat kompleks (pati 30-40% berat segar), serta bebas gluten secara alami. Keistimewaan singkong terletak pada daya adaptasinya yang luar biasa — tanaman ini mampu tumbuh di lahan marginal dan kering dengan kesuburan rendah, toleran terhadap kekeringan hingga 4-6 bulan, serta membutuhkan input pupuk yang minimal. Tidak heran jika singkong dijuluki sebagai "tanaman penyelamat" (food security crop) yang menjadi andalan saat musim paceklik dan bencana. Seluruh bagian tanaman singkong memberikan manfaat ekonomi: umbi sebagai bahan pangan dan industri, daun sebagai sayuran kaya protein, batang sebagai bibit stek dan kayu bakar. Industri hilir singkong di Indonesia sangat maju dengan produk turunan seperti tepung tapioka (pati singkong), mocaf (Modified Cassava Flour) yang menjadi substitusi terigu nasional, gula cair, bioetanol, pakan ternak, hingga bioplastik ramah lingkungan. Nilai strategis singkong semakin meningkat sejak program Pengembangan Pangan Lokal dan Gerakan Mocaf Nasional yang didorong Kementerian Pertanian untuk mengurangi ketergantungan impor gandum.
Ipomoea batatas
Ubi Jalar (Ipomoea batatas) adalah tanaman umbi-umbian yang termasuk dalam famili Convolvulaceae (sama dengan kangkung) dan berasal dari daerah tropis Amerika Tengah dan Selatan. Bukti arkeologis menunjukkan ubi jalar telah dibudidayakan sejak 8.000-10.000 tahun yang lalu di wilayah yang kini menjadi Peru dan Ekuador. Tanaman ini menyebar ke seluruh dunia melalui pelayaran Spanyol dan Portugis pada abad ke-16 — mencapai Filipina, Tiongkok, Jepang, dan Nusantara melalui jalur perdagangan galleon Manila-Acapulco. Ubi jalar dikenal dengan beragam nama lokal: ketela rambat (Jawa), huwi boled (Sunda), tela (Madura), dan sweet potato dalam bahasa Inggris. Berbeda dengan kentang (Solanum tuberosum) yang termasuk famili Solanaceae, ubi jalar menyimpan cadangan makanan dalam bentuk umbi akar (tuberous root) yang kaya karbohidrat kompleks, beta-karoten, vitamin A, vitamin C, serat pangan, dan berbagai antioksidan. Di Indonesia, ubi jalar merupakan komoditas pangan strategis nomor empat setelah padi, jagung, dan singkong, dengan luas panen mencapai 170.000 hektar per tahun (BPS 2025). Selain sebagai sumber pangan karbohidrat alternatif, ubi jalar memiliki potensi besar dalam industri pangan olahan (tepung, pasta, mie, keripik), pakan ternak, bahan baku bioetanol, dan produk kosmetik. Tanaman ini sangat adaptif terhadap berbagai kondisi lahan — tumbuh subur di tanah marginal, tahan kekeringan relatif, dan membutuhkan input produksi rendah, menjadikannya andalan ketahanan pangan di daerah kering dan lahan sub-optimal.
Daucus carota subsp. sativus
Wortel (Daucus carota subsp. sativus) adalah tanaman umbi bienial anggota famili Apiaceae yang berasal dari Asia Tengah, khususnya wilayah Afghanistan. Tanaman ini menyimpan karbohidrat dalam akar tunggangnya yang membengkak, menghasilkan akar berwarna oranye khas yang kaya beta-karoten (provitamin A). Wortel telah dibudidayakan selama lebih dari 1.000 tahun dan kini menjadi salah satu sayuran umbi paling populer di dunia, termasuk di Indonesia dengan sentra produksi di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Utara.